Rabu, 22 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Di Balik Mahkota Spanyol, Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Pendapatan FIFA dan Picu Debat Komersialisasi

Spanyol keluar sebagai juara, tapi edisi 48 tim pertama di Amerika Utara juga mencetak rekor penonton dan pendapatan bagi FIFA—memunculkan kritik atas komersialisasi berlebih.

Oleh Gatot Permadi
Diterbitkan
Di Balik Mahkota Spanyol, Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Pendapatan FIFA dan Picu Debat Komersialisasi
Foto: AP

Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan mahkota untuk Spanyol, namun di balik trofi La Roja, turnamen 48 tim pertama yang digelar di Amerika Utara menyisakan warisan ganda: rekor pendapatan bagi FIFA dan kekhawatiran atas komersialisasi yang kian masif.

Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106 babak extra time di MetLife Stadium, New York, Senin (20/7/2026) WIB. Kemenangan itu menutup edisi pertama yang diperluas menjadi 48 negara peserta dengan 104 laga, naik dari 64 pertandingan pada format lama.

Secara komersial, turnamen kali ini mencetak angka yang belum pernah terjadi. Total 6,81 juta penonton hadir ke stadion sepanjang 104 pertandingan, menurut hitungan sejumlah media pasca-turnamen. Di sisi pendapatan, FIFA diperkirakan mengantongi sekitar 15 miliar dolar AS—setara Rp244 triliun menurut laporan yang dirilis 19 Juli 2026—angka tertinggi dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Lonjakan nilai itu memicu perdebatan. Sejumlah pengamat menilai ekspansi 48 tim menghadirkan "kegemukan" jadwal, sementara kritik lain menyebut sentuhan Amerika pada turnamen ini meninggalkan sepak bola dalam "pertarungan atas jiwanya" lantaran muatan komersial yang dominan. Sorotan serupa muncul pada upacara penutupan yang dibanjiri bintang hiburan global.

Namun pandangan berbeda juga muncul. Pendukung format baru menyoroti rekor kehadiran di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai bukti sepak bola tumbuh di pasar baru, termasuk suntikan ekonomi sekitar 20 miliar dolar AS ke perekonomian AS dari belanja kota-kota tuan rumah.

Dengan Piala Dunia 2030 yang akan dibagi antara Spanyol, Portugal, dan Maroko—plus pertandingan peringatan di Amerika Selatan—serta edisi 2034 di Arab Saudi, model komersial turnamen dipastikan terus menggeliat. Pertanyaan soal keseimbangan antara bisnis dan jiwa olahraga tampaknya akan tetap mengiringi setiap edisi berikutnya.

Tentang Penulis