Kota Padang mendadak ramai bukan karena festival atau prestasi daerah, melainkan karena kabar yang menyeramkan: sosok pocong disebut-sebut berkeliaran di permukiman warga, bahkan membawa senjata tajam. Isu ini meledak di media sosial dan grup WhatsApp pada awal Juni 2026, memicu kepanikan yang meluas dalam hitungan jam.
Tapi seberapa jauh isu ini benar? Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya?
Awal Mula Isu Pocong Viral di Padang
Kabar soal "pocong perampok" mulai beredar luas di media sosial dan grup percakapan warga Kota Padang sekitar awal Juni 2026. Isu ini awalnya berkembang di wilayah Kecamatan Kuranji, lalu merambat ke berbagai penjuru kota — bahkan sebelumnya sempat muncul di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Cerita yang beredar pun terus berkembang dengan berbagai versi yang semakin dramatis:
-
Sosok pocong datang malam hari membawa senjata tajam
-
Pocong mengetuk pintu rumah warga, berharap ada yang membukakan pintu
-
Setelah masuk, pelaku diduga akan merampok isi rumah
Meski cerita ini tersebar begitu luas dari mulut ke mulut dan grup chat, hingga saat ini belum ada bukti fisik maupun keterangan saksi mata yang dapat memastikan kejadian tersebut benar-benar terjadi. Tidak ada laporan resmi ke pihak kepolisian yang mengonfirmasi adanya aksi kriminal berkedok pocong di Padang.
Respons Satpol PP: Tetap Tenang, Jangan Main Hakim Sendiri
Merespons keresahan yang meluas, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Padang, Chandra Eka Putra, segera angkat bicara. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
"Jika memang menemukan hal demikian, warga diminta untuk tidak melakukan inisiatif sendiri, tetapi segera melaporkan kepada pihak berwajib." — Chandra Eka Putra, Kasatpol PP Kota Padang (3 Juni 2026)
Ada tiga poin penting dari imbauan Satpol PP yang perlu digarisbawahi:
1. Tetap tenang dan bersikap realistis Masyarakat diminta tidak langsung percaya pada informasi yang belum terverifikasi, apalagi jika informasinya hanya berputar di grup WhatsApp tanpa sumber yang jelas.
2. Lapor ke pihak berwajib, bukan main hakim sendiri Jika benar-benar melihat hal mencurigakan, langkah pertama adalah menghubungi aparat — bukan memviralkan lebih jauh atau mengambil tindakan sendiri yang justru bisa berbahaya.
3. Pengawasan akan diperketat Satpol PP bersama unsur terkait akan meningkatkan pengawasan di tengah masyarakat. Dubalang Kota — satuan pengamanan berbasis kelurahan yang selama ini aktif di lingkungan — akan diperkuat. Seluruh perangkat kelurahan dan personel Satpol PP yang diperbantukan (BKO) di kelurahan dan kecamatan juga diminta lebih responsif.
Dimensi Lain: Bocah Viral yang Jadi Korban Hoaks
Di tengah riuhnya isu pocong Padang, muncul satu kasus yang justru memperlihatkan sisi paling berbahaya dari penyebaran hoaks: seorang bocah bernama Rizky Yajibibowo fotonya disebarkan dengan narasi bahwa ia adalah pelaku teror pocong yang telah ditangkap polisi.
Padahal, klaim itu sepenuhnya tidak benar.
Melalui akun TikTok pribadinya, Rizky memberikan klarifikasi tegas bahwa ia tidak ada kaitannya dengan teror pocong mana pun. Fotonya digunakan tanpa izin oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mendramatisasi narasi viral. Akibatnya, nama baik seorang anak tercoreng hanya karena algoritma media sosial dan minimnya literasi digital sebagian pengguna internet.
Kasus ini menjadi pengingat keras: menyebarkan informasi tanpa verifikasi bukan sekadar tidak bijak — ia bisa merugikan orang yang sama sekali tidak bersalah.
Mengapa Isu Pocong Begitu Mudah Viral?
Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi. Isu pocong viral telah berulang di berbagai daerah Indonesia — dari Bandung Barat, Surabaya, Payakumbuh, hingga kini Padang. Mengapa konten semacam ini menyebar begitu cepat?
Menurut Dosen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Ratna Azis Prasetyo, ada perubahan makna budaya yang mendasarinya. Pocong dalam budaya Jawa sejatinya adalah simbol kematian yang sakral. Namun di era digital, makna itu bergeser — pocong menjadi konten hiburan, bahan prank, bahkan sarana monetisasi kreator.
Ia menjelaskan bahwa ketakutan kolektif masyarakat terbentuk dari banyak faktor yang saling berkaitan: budaya mistis, algoritma media sosial, dan perilaku pengguna internet itu sendiri. Ketika sebuah video pocong muncul di beranda seseorang, algoritma akan terus merekomendasikan konten serupa — menciptakan lingkaran yang membuat isu terasa semakin nyata dan mengancam.
"Informasi tentang pocong yang menyebar luas ini akhirnya dianggap semakin nyata oleh masyarakat." — Ratna Azis Prasetyo, Sosiolog FISIP Unair
Proses penyebarannya pun khas: dari video warga → media sosial → grup WhatsApp → dari rumor lokal menjadi rumor nasional, hanya dalam hitungan jam.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
Menghadapi situasi seperti ini, ada langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan siapa pun:
Saat Menerima Informasi Mencurigakan
-
Berhenti sebelum share. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ada sumber terpercaya yang memverifikasi ini?
-
Cek di situs berita resmi atau kanal resmi pemerintah daerah sebelum percaya.
-
Jangan tambahkan bumbu cerita. Meneruskan pesan dengan tambahan "katanya…" atau "konon…" tetap bisa memperparah kepanikan.
Saat Menemukan Hal Mencurigakan di Lapangan
-
Hubungi 110 (Polisi) atau 112 (Layanan Darurat)
-
Laporkan ke RT/RW atau kelurahan setempat
-
Jangan mendekati atau mengkonfrontasi langsung — keselamatan diri adalah prioritas utama
Untuk Orang Tua dan Pendidik
-
Ajak anak-anak mendiskusikan fenomena viral ini sebagai pelajaran literasi digital
-
Tekankan bahwa tidak semua yang ramai di media sosial adalah kebenaran
-
Kisah Rizky bisa menjadi contoh nyata betapa mudahnya seseorang menjadi korban hoaks
Polisi Juga Minta Warga Tidak Percaya Begitu Saja
Selain Satpol PP, pihak kepolisian turut meminta warga Padang untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar tanpa klarifikasi dari aparat berwenang. Koordinasi antara Satpol PP, kepolisian, dan perangkat kelurahan sedang diperketat untuk memantau situasi di lapangan.
Jika isu ini ternyata benar merupakan ulah seseorang yang menyamar sebagai pocong untuk tujuan kriminal, aparat sudah siap menangani. Jika ternyata murni hoaks dan konten iseng, maka tindakan hukum pun bisa menanti penyebar informasi sesat tersebut — sesuai ketentuan UU ITE yang berlaku.
Isu pocong viral Padang 2026 adalah cermin dari bagaimana informasi yang belum terverifikasi bisa bergerak lebih cepat dari kebenaran itu sendiri. Di satu sisi, keresahan warga bisa dimaklumi — tidak ada yang ingin merasa tidak aman di lingkungan sendiri. Di sisi lain, kepanikan yang tidak terkendali justru bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Imbauan Satpol PP dan kepolisian sudah jelas: tetap tenang, jangan main hakim sendiri, dan laporkan jika benar-benar menemukan hal mencurigakan.
Yang tidak kalah penting: jadikan momen ini sebagai latihan kolektif untuk lebih bijak bermedia sosial. Satu tombol "share" yang ditekan tanpa verifikasi bisa berdampak pada keselamatan orang lain — seperti yang sudah terjadi pada Rizky, bocah yang namanya dicemarkan oleh mesin viralitas yang bergerak tanpa rem.
Ditulis berdasarkan informasi dari Satpol PP Kota Padang, Kompas Regional, Nusantaranews, BiNews, dan sumber terpercaya lainnya. Terakhir diperbarui: 5 Juni 2026.