Sabtu, 11 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Equity 2026: Fateta Unand Siapkan Kerupuk Kamang Agam Go Internasional

Mahasiswa dari enam negara dibimbing Fateta Unand mengembangkan Kerupuk Kamang asal Agam ke pasar internasional lewat Program Equity 2026. Fokus pada pengeringan, legalitas, dan digital marketing.

Oleh Claudia Lestari
Diterbitkan
Foto: ANTARA/Universitas Andalas

Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Universitas Andalas menggandeng mahasiswa dari enam negara untuk mengembangkan Kerupuk Kamang, kuliner khas Agam berbahan ubi kayu, ke pasar internasional. Kegiatan ini berjalan dalam Program Equity 2026 yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dekan Fateta Unand, Alfi Asben, menyebut inovasi tersebut merupakan wujud tri darma perguruan tinggi. "Sesuai dengan tema inovasi teknologi pengolahan kerupuk ubi kayu kamang untuk peningkatan mutu dan daya saing produk menuju pasar internasional, ini jadi salah satu tri darma kita mengabdi ke masyarakat," kata Alfi.

Kegiatan berlangsung di Nagari Koto Tangah, Tilatang Kamang, Agam, Kamis (9/7). Nagari ini termasuk dari 10 Nagari Creative Hub di Sumbar yang ditetapkan Pemprov. Peserta berasal dari Malaysia, Kamboja, Timor Leste, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Intervensi teknologi

Fateta menemukan sejumlah kendala pada industri kerupuk kamang lokal: proses pengolahan belum memenuhi cara pengolahan pangan yang baik, belum berlegalitas usaha, kemasan belum menarik, serta pengeringan masih sangat sederhana dan kurang higienis.

Untuk mengatasi itu, Fateta mendisain alat pengeringan, mendampingi legalitas usaha, melatih digital marketing, serta mengembangkan variasi rasa dan bentuk tanpa menghilangkan kekhasan produk. "Fateta mencoba membantu proses pengeringan dengan mendisign alat pengeringan, fokus dengan legalitas usaha, digital marketing dan mengembangkan produk kerupuk kamang dengan memodifikasi rasa dan bentuk tanpa meninggalkan kekhasannya," ujar Alfi.

Advertisement

Dosen Universitas Putra Malaysia (UPM), Rosnah Shamsudin, mencontohkan bagaimana keripik ubi di Malaysia dikembangkan lewat variasi rasa dan agensi kerajaan yang membawa produk ke pasar luar negara. "Kita tunjukkan macam mana penghasilan keripik ubi di Malaysia. Macam mana usaha, pengusaha-pengusaha di Malaysia menjalankan, meningkatkan pengeluaran keripik ubi mereka dan dia perbagaikan variasi rasa," kata Rosnah.

Harapan pelaku UMKM

Wali Nagari Kota Tangah, Amrizal Gunawan, menyambut baik pendekatan Unand tersebut. "Kami sangat merespons baik kegiatan yang diangkat oleh pihak Unand. Kami berharap langkah ini dapat membantu para pelaku UMKM untuk meningkatkan produksinya serta lebih dikenal di pasar yang lebih luas," ungkapnya.

Program ini merupakan kelanjutan sejak 2019 untuk penguatan UMKM lokal di Nagari Koto Tangah. Dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu, warga lokal dapat mengikuti setiap tahapan pendampingan.

Langkah Fateta Unand mencerminkan peran perguruan tinggi sebagai penggerak ekonomi daerah. Jika berjalan konsisten, Kerupuk Kamang berpotensi menembus pasar regional dan global sekaligus menjaga warisan kuliner Agam.

Tentang Penulis