Jumat, 24 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Sungai Ngarai Sianok Meluap Rendam 8 Rumah di Bukittinggi, BPBD Sebut Sumbatan Hulu Jebol

Sungai Ngarai Sianok, Bukittinggi meluap tanpa hujan pada Jumat dini hari. Delapan rumah, satu mushala, dan tiga warung terendam lumpur; 11 KK terdampak, nihil korban jiwa.

Oleh Claudia Lestari
Diterbitkan
Sungai Ngarai Sianok Meluap Rendam 8 Rumah di Bukittinggi, BPBD Sebut Sumbatan Hulu Jebol
Foto: ANTARA/Al Fatah

Sungai di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7) dini hari tanpa adanya hujan dan menggenangi delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung warga dengan air bercampur lumpur.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bukittinggi Zulhendri menyebut luapan terjadi akibat jebolnya sumbatan aliran yang tertutup longsor pada dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam. "Penyebab luapan sungai karena bobolnya sumbatan aliran tertutup longsor dinding Ngarai Sianok di bagian hulu di Guguak Randah, Agam," kata Zulhendri.

Banjir yang berlangsung di kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam. Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak, dengan lumpur masuk ke dalam rumah dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok.

Menurut Zulhendri, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Laporan warga menyebut ketinggian air mencapai satu meter pada awal kejadian. Petugas gabungan dari BPBD, TNI-Polri, dan masyarakat setempat langsung membersihkan sisa material lumpur dan puing.

Erna (50), warga terdampak di Kayu Kubu, mengaku terbangun setelah diingatkan pemuda yang sedang ronda malam. "Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang menyelamatkan diri," ujarnya.

Ia berharap pemerintah melakukan antisipasi serupa melalui pengerukan dasar Sungai Ngarai Sianok. "Biasanya pengerukan dilakukan enam bulan sekali, tapi setahun ini belum. Kami meminta juga perbaikan tanggul agar luapan air sungai bisa diminimalisir," kata Erna.

Kejadian serupa pernah terjadi pada Juni 2024, juga tanpa hujan. Warga terdampak telah diimbau untuk direlokasi karena kawasan tersebut merupakan wilayah penyangga (buffer zone) Ngarai Sianok.

Tentang Penulis