Painan, Pesisir Selatan — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PP & KB) Kabupaten Pesisir Selatan mencatat sebanyak 1.157 warga mengalami gangguan jiwa berat (ODGJ berat) per Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 11 orang di antaranya masih dipasung oleh keluarga.
Data ini terungkap dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pelayanan Kesehatan Jiwa yang digelar di Painan pada awal Juli 2026. Sebanyak 52 peserta hadir, terdiri dari 21 pengelola program kesehatan jiwa dan Napza dari puskesmas serta 21 operator aplikasi Simkeswa.
Sekretaris Dinkes PP & KB Pessel, Donny Tayes, menyebut total pasien gangguan jiwa di wilayah itu mencapai 1.267 orang. Artinya, 91,3 persen di antaranya masuk kategori ODGJ berat yang memerlukan penanganan serius.
"Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang nyata dan terdampak oleh arus modernisasi serta kemajuan teknologi. Melalui tata kelola yang terukur, kita ingin memastikan para penderita mendapatkan pelayanan sesuai standar," kata Donny.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa, Napza, dan Kesehatan Tradisional, Hendra Novizon, mendorong seluruh pengelola program di tingkat puskesmas untuk bergerak cepat melakukan kunjungan rumah, terutama bagi pasien yang putus kontak.
"Pemantauan kepatuhan minum obat secara teratur wajib dioptimalkan dengan melibatkan pihak keluarga sebagai pengawas," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh peserta mendeklarasikan komitmen "Pesisir Selatan Bebas Pasung 2026". Deklarasi ini menjadi respons terhadap masih adanya praktik pemasungan di tengah upaya pemerintah daerah memperluas layanan kesehatan jiwa.
Sejumlah rencana aksi disepakati, antara lain perluasan skrining dini menggunakan instrumen PHQ4 untuk deteksi kesehatan mental umum, EPDS bagi ibu hamil, serta kegiatan P3LP di tingkat SMP dan SMA. Puskesmas juga diminta berkoordinasi dengan wali nagari untuk mendaftarkan pasien gangguan jiwa ke Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan mengusulkan mereka sebagai penerima bantuan sosial.
Pelaporan digital melalui aplikasi ASIK dan Simkeswa juga menjadi fokus untuk memantau pemeriksaan status mental dan edukasi kepatuhan obat secara berkelanjutan.
Stigma masyarakat terhadap ODGJ masih menjadi hambatan besar. Donny menekankan pentingnya menghilangkan persepsi negatif yang kerap membuat keluarga enggan membawa penderita ke fasilitas kesehatan.
Topik Terkait
Tentang Penulis