Minggu, 05 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

134 Tahun Stasiun Solok: Warisan UNESCO yang Menanti Reaktivasi

Stasiun Solok genap 134 tahun pada 1 Juli 2026. Nonaktif sejak 2014, stasiun Warisan UNESCO ini masuk dalam rencana reaktivasi jalur KA Sumbar pada 2026–2029.

Oleh Dipsi Ay
Diterbitkan
Tampak depan Stasiun Solok tahun 2023

Tepat 1 Juli 2026, Stasiun Solok genap berusia 134 tahun sejak pertama kali diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1 Juli 1892. Namun di balik usianya yang panjang, stasiun kelas II yang terletak di Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok ini telah lama tak lagi melayani perjalanan kereta api — nonaktif sejak 2014 silam.

Meski tak beroperasi, Stasiun Solok menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Bangunan ini merupakan bagian dari Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Dulu, stasiun ini menjadi simpul penting jalur kereta api yang menghubungkan Solok dengan Padang Panjang hingga Sawahlunto, mengangkut batubara dan penumpang di zamannya.

Namun kini, harapan baru mulai muncul. Stasiun Solok diproyeksikan menjadi pusat kebangkitan transportasi heritage di Sumatera Barat melalui program reaktivasi jalur kereta api yang masuk dalam roadmap pengembangan PT KAI 2026–2030.

Reaktivasi Jalur Sawahlunto–Solok–Batu Tabal

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Padang, Hendri Noviar, mengungkapkan bahwa jalur Sawahlunto–Solok ditargetkan direaktivasi pada 2026–2028, disusul jalur Solok–Batu Tabal pada 2027–2029. Program ini tidak hanya bertujuan menghidupkan kembali moda transportasi, tetapi juga mendukung pelestarian heritage sekaligus membuka akses wisata dan transportasi penumpang.

Secara keseluruhan, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius pada pengembangan perkeretaapian Sumatera Barat. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyampaikan bahwa reaktivasi jalur kereta api di Sumbar telah mendapatkan alokasi investasi awal sekitar Rp300 miliar.

Advertisement

Total panjang jalur yang akan diaktifkan kembali mencapai 248,5 kilometer, meliputi:

  • Naras–Sungai Limau: 6,5 km
  • Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang: 162 km
  • Solok–Muarakalaban: 24 km
  • Muarakalaban–Sawahlunto: 4 km
  • Padang Panjang–Batu Tabal: 18 km
  • Batu Tabal–Solok: 34 km

Program ini merupakan bagian dari proyek besar Kereta Api Trans Sumatera yang ditargetkan menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung dengan total investasi diperkirakan mencapai Rp350 triliun. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, menegaskan bahwa Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah prioritas dalam periode 2026–2030.

Harapan dari Pemerintah Daerah

Wali Kota Solok, Zul Elfian Umar, menyambut positif rencana reaktivasi ini. Menurutnya, selain menghidupkan kembali sejarah perkeretaapian, jalur ini akan membuka peluang ekonomi dan wisata baru bagi Kota Solok dan sekitarnya.

"Reaktivasi Stasiun Solok bukan sekadar menghidupkan rel mati, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi masyarakat," ujarnya.

Dengan 134 tahun perjalanan sejarah, Stasiun Solok kini menanti realisasi janji reaktivasi — dari stasiun yang pernah menjadi saksi kejayaan transportasi rel di Sumbar, menuju babak baru kebangkitannya.

Tentang Penulis