Kementerian Pertahanan memulangkan 32 peserta hamil dari latihan dasar militer atau latsarmil bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Pada saat yang sama, peserta yang terindikasi terpapar tuberkulosis atau TBC di lokasi pelatihan juga dipisahkan untuk penanganan medis lanjutan, sementara program disebut tetap berjalan.
Perkembangan ini menjadi sorotan baru dalam polemik latsarmil setelah sebelumnya lima peserta dilaporkan meninggal dalam 10 hari pertama pelaksanaan program. Jika sebelumnya perhatian publik tertuju pada jumlah korban dan evaluasi pemerintah, temuan baru soal peserta hamil serta pelacakan TBC memperluas pertanyaan tentang seleksi kesehatan dan pengawasan selama pendidikan berlangsung.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan 32 peserta yang sedang hamil telah dipulangkan dengan pertimbangan kemanusiaan dan perkembangan kesehatan. Mereka disebut tetap berstatus lulus dan masuk talent pool untuk mengikuti batch berikutnya.
Selain itu, setelah satu peserta dinyatakan meninggal akibat TBC aktif, penyelenggara melakukan pelacakan terhadap peserta dan panitia latihan di Pusat Bahasa Kodiklat TNI AU, Jakarta. Peserta yang terindikasi terpapar kemudian dipisahkan dan diisolasi agar penanganan medis bisa dilakukan lebih cepat.
“Dengan pertimbangan perkembangan kesehatan, dengan alasan kemanusiaan, ada 32 orang tahap pertama dipulangkan dengan talent pool,” kata Ketut dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Advertisement
Ketut juga menyatakan kondisi peserta yang dipisahkan karena paparan TBC masih aman dan terkendali. Di sisi lain, Kemenhan menegaskan program tetap dilanjutkan karena dinilai penting untuk membentuk calon pengelola yang berkarakter, disiplin, dan berintegritas.
Fakta baru ini menambah tekanan terhadap penyelenggara untuk menjelaskan mutu pemeriksaan kesehatan awal peserta. Sebab, selain lima kematian yang sudah menjadi perhatian publik, muncul pula pertanyaan mengapa peserta hamil bisa lolos hingga masuk pendidikan dan bagaimana peserta dengan risiko penyakit menular tetap berada dalam lingkungan pelatihan.
Sebelumnya, pemerintah juga menyatakan akan mengevaluasi pelaksanaan latsarmil, tetapi belum menghentikan program tersebut. Dengan munculnya data peserta hamil yang dipulangkan dan pelacakan TBC di lokasi pelatihan, evaluasi terhadap prosedur seleksi kesehatan dan mitigasi risiko selama pendidikan diperkirakan akan makin disorot.
Sumber: Kompas.com, Tempo.co.
Topik Terkait
Tentang Penulis