Perkembangan kasus meninggalnya peserta latihan dasar kemiliteran atau latsarmil program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) kembali disorot setelah keluarga Novia Rahmadhani Sihotang menyatakan belum menerima hasil laboratorium maupun hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit.
Novia merupakan peserta program untuk calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal setelah sempat dirawat di RS Esnawan Antariksa, Jakarta. Keterangan terbaru dari keluarga ini muncul ketika perhatian publik terhadap rangkaian kematian peserta latsarmil masih tinggi.
Abang kandung korban, Hary Suanto, mengatakan keluarga sudah meminta dokumen hasil pemeriksaan sejak sebelum jenazah dipulangkan ke rumah duka. Namun hingga Jumat, 26 Juni 2026 malam, menurut dia, hasil tersebut belum diserahkan kepada keluarga.
“Sampai detik ini kami belum menerima hasil laboratorium maupun hasil pemeriksaan medisnya,” kata Hary, dikutip dari detikSumut.
Hary menjelaskan pihak rumah sakit sempat menyampaikan dokumen itu bersifat rahasia sehingga tidak dapat langsung dibagikan. Keluarga, kata dia, tetap meminta setidaknya salinan digital karena menganggap informasi medis itu penting untuk mengetahui penyebab pasti kematian Novia.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan sebelumnya sudah menyampaikan penjelasan resmi mengenai kondisi Novia. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani pendidikan dan kemudian mendapatkan penanganan medis intensif sebelum dinyatakan meninggal pada 23 Juni 2026. Menurut penjelasan resmi Kemhan kepada media, hasil pemeriksaan medis mengaitkan kondisi Novia dengan tuberkulosis aktif.
Perbedaan posisi itulah yang kini menjadi sorotan. Pemerintah sudah menyampaikan versi resmi berdasarkan penanganan medis, tetapi keluarga korban menyebut dokumen hasil pemeriksaan yang menjadi dasar penjelasan itu belum mereka terima.
Kasus Novia berada dalam rangkaian insiden yang lebih luas di program latsarmil SPPI. Dalam beberapa hari terakhir, Istana menyatakan pelaksanaan program akan dievaluasi setelah jumlah peserta meninggal bertambah. Namun, pemerintah sejauh ini belum menyimpulkan ada kelalaian dalam penyelenggaraan pelatihan.
Pernyataan keluarga Novia membuat perhatian publik bergeser dari sekadar jumlah korban ke aspek transparansi penanganan medis. Selain evaluasi prosedur pelatihan, pertanyaan mengenai akses keluarga terhadap hasil pemeriksaan kini ikut mengemuka dalam kasus latsarmil calon pengelola Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Sumber: detikSumut, Kompas.com, keterangan resmi Kemhan yang dikutip media nasional.
Topik Terkait
Tentang Penulis