Jumlah korban meninggal dalam latihan dasar militer untuk calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih bertambah menjadi lima orang. Seiring penambahan korban, perhatian publik kini tertuju pada daftar nama korban serta fakta medis yang sudah diungkap Kementerian Pertahanan.
Korban pertama yang dijelaskan Kemhan adalah Anisa Muyassaroh. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, dan dinyatakan meninggal setelah mengalami heat stroke. Kemhan menyebut Anisa sempat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Korban berikutnya adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti latihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, Sumatera Selatan. Berdasarkan penjelasan resmi, Yonanda meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung setelah kondisi kesehatannya menurun saat pelatihan.
Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti latsarmil di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta dilaporkan meninggal setelah menjalani perawatan intensif. Kemhan menyatakan kondisi kesehatan Novia berkaitan dengan tuberkulosis atau TB.
Korban keempat ialah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Dalam penjelasan sebelumnya, Kemhan menyebut Rifki sempat mengalami sesak napas, mendapatkan penanganan awal, lalu dirujuk ke rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Hingga pembaruan terbaru, rincian penyebab medis final untuk Rifki belum dijelaskan selengkap tiga kasus awal.
Korban kelima adalah Nola Dya Sari yang mengikuti latsarmil di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan. Menurut konferensi pers Kemhan, Nola sempat mengeluh sesak napas dan badan panas saat mengikuti pembelajaran di kelas, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Singkawang dan RSUD Abdul Aziz Singkawang. Dalam proses penanganan, korban mengalami henti jantung dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.
Bertambahnya jumlah korban membuat penjelasan soal aspek medis menjadi makin penting. Kemhan menegaskan seluruh peserta telah melalui tes kesehatan sebelum pendidikan dimulai, termasuk pemeriksaan laboratorium, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, hingga evaluasi kesehatan jiwa.
Meski begitu, publik masih menanti hasil evaluasi medis yang lebih komprehensif, terutama untuk menjawab apakah skrining awal, pengawasan lapangan, dan penanganan darurat selama latihan sudah benar-benar memadai. Transparansi hasil evaluasi itu dianggap penting agar kasus serupa tidak terus berulang.
Sumber: Kompas.com; CNN Indonesia; keterangan resmi dan konferensi pers Kemhan.
Tentang Penulis