Sabtu, 04 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Dandim Agam Bantah Koperasi Merah Putih Sianok Dibangun di Lokasi Terisolir

Dandim 0304/Agam Letkol Inf. Dwi Santoso membantah kabar Koperasi Merah Putih Sianok dibangun di lokasi terisolir. Lokasinya disebut berada di kawasan ramai dekat Ngarai Sianok.

Oleh Nayla
Diterbitkan
Koperasi Merah Putih Nagari Sianok, Kabupaten Agam
Foto: ANTARA/HO-Kodim 0304 Agam

Komandan Distrik Militer (Dandim) 0304/Agam Letkol Inf. Dwi Santoso membantah kabar yang menyebut Koperasi Merah Putih Sianok, Kabupaten Agam, dibangun di lokasi terisolir dan sulit dijangkau warga.

Bantahan itu disampaikan setelah informasi mengenai lokasi koperasi tersebut beredar di media sosial. Dwi menyebut informasi yang muncul tidak menggambarkan kondisi lokasi secara utuh.

Menurut dia, bangunan koperasi berada di kawasan yang ramai, dekat permukiman warga, rumah makan, serta berada di jalur yang dilalui kendaraan dari Bukittinggi menuju Agam. Lokasinya juga berdekatan dengan kawasan wisata Ngarai Sianok.

“Informasi di media sosial yang beredar tidak secara utuh, lokasi itu ramai rumah warga dan setiap hari dilalui pengendara dari Bukittinggi ke Agam, terpenting lagi itu ada di kawasan objek wisata Ngarai Sianok,” kata Dwi, dikutip dari ANTARA Sumbar, Jumat (3/7).

Dwi menjelaskan, pemilihan lokasi Koperasi Merah Putih Sianok dilakukan oleh pemerintah nagari bersama tokoh adat di Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat. Ia juga menyebut adanya keterbatasan lahan nagari sebagai salah satu pertimbangan dalam penentuan lokasi.

Lokasi koperasi itu disebut berada di sebelah kanan setelah melewati jembatan batas Bukittinggi dengan Agam. Di sekitarnya terdapat rumah warga, rumah makan, serta Kantor Bamus Nagari Sianok yang direncanakan menjadi Kantor Walinagari.

Advertisement

“Kantor Walinagari juga akan dipindah ke sini hingga semakin ramai masyarakat yang datang,” ujar Dwi.

Ia menambahkan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan program pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menghadirkan pusat layanan terpadu di tingkat desa atau kelurahan.

Dalam praktiknya, koperasi tersebut diharapkan dapat membantu warga mengelola hasil panen, memasarkan hasil alam, membeli kebutuhan harian, hingga mengakses layanan ekonomi mikro.

“Sehingga nanti hasil panen itu dari koperasi itu yang mengelola, mungkin dipasarkan ke mana, sehingga masyarakat tidak kebingungan ke mana harus menjual hasil panen tersebut,” katanya.

Koperasi Merah Putih Sianok disebut telah rampung sekitar tiga bulan lalu. Untuk wilayah binaannya, Dwi menargetkan 25 koperasi berdiri pada 2026, dengan realisasi sementara 13 koperasi.

Isu lokasi koperasi ini mencuat di tengah perhatian publik terhadap pelaksanaan program Koperasi Merah Putih di berbagai daerah. Pemerintah daerah dan unsur terkait diharapkan memberi penjelasan terbuka agar pembangunan fasilitas ekonomi desa tidak memicu salah informasi di masyarakat.

Tentang Penulis