Pertumbuhan ekonomi China melemah ke 4,3 persen pada kuartal II 2026, berada di bawah rentang target resmi pemerintah. Angka tersebut memperlihatkan tekanan berlanjut pada konsumsi domestik dan sektor properti raksasa negeri itu.
Data terbaru menunjukkan bahwa stimulus yang digelontorkan Beijing belum cukup mengerek permintaan rumah tangga. Sektor real estat yang selama satu dekade menjadi mesin pertumbuhan kini justru menjadi beban karena krisis utang pengembang.
Bagi Indonesia, perlambatan China berimplikasi pada harga komoditas dan volume ekspor. Sebagai mitra dagang utama, pelemahan permintaan dari negeri tirai bambu dapat menekan harga batu bara, CPO, dan produk pertambangan lainnya.
Analis menilai Beijing masih punya ruang untuk pelonggaran moneter dan fiskal tambahan. Namun kepercayaan konsumen perlu dipulihkan agar momentum pertumbuhan kembali stabil di paruh kedua tahun ini.
Topik Terkait
Tentang Penulis