Padang Bentuk Posko Terpadu Bencana, TNI Siaga 30 Personel 24 Jam

Pemko Padang dan Korem 032/Wirabraja menyiapkan posko terpadu penanggulangan bencana menjelang puncak musim hujan, dengan setiap satuan TNI menyiagakan minimal 30 personel selama 24 jam.

Penulis Aksara Kirana
Editor Nayla
Apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi di Lapangan Imam Bonjol, Padang
Foto: ANTARA/Najmi Aulia

PADANG — Pemerintah Kota Padang bersama Komando Resimen Militer (Korem) 032/Wirabraja menyiapkan posko terpadu penanggulangan bencana bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menjelang meningkatnya curah hujan pada November hingga Desember 2026. Posko itu diproyeksikan menjadi pusat koordinasi pengerahan personel hingga penyaluran bantuan ketika bencana hidrometeorologi terjadi.

Langkah tersebut disiapkan setelah apel kesiapsiagaan bencana di Lapangan Imam Bonjol, Padang, Jumat (6/11/2026), yang melibatkan personel TNI, Polri, BPBD, Basarnas, dan jajaran Pemko Padang. Sejumlah alat utama pendukung penanggulangan bencana dipamerkan pada apel itu dan diperiksa langsung oleh Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Danrem 032/Wirabraja.

Komandan Korem 032/Wirabraja Brigjen TNI Aji Mimbarno mengatakan posko terpadu dibentuk agar seluruh unsur terkait bergerak cepat dan terkoordinasi saat bencana terjadi. "Untuk memperkuat koordinasi, kami bersama Pemko Padang dan Forkopimda akan membentuk posko terpadu untuk mengoordinasikan penanganan bencana," kata Aji di Padang.

Selain posko, Aji menginstruksikan setiap satuan TNI di jajaran Korem 032/Wirabraja menyiagakan minimal 30 personel selama 24 jam. Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya diukur dari kecepatan pengerahan personel dan peralatan, tetapi juga dari tindakan cepat, terpadu, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Wali Kota Padang Fadly Amran menilai sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci ketahanan warga pada bulan-bulan dengan cuaca buruk. "Sinergitas hari ini memastikan resiliensi masyarakat. Apakah di bulan November dan Desember ketika cuaca memburuk, kita tetap menjadi garda terdepan untuk mengamankan Kota Padang," ujarnya.

Fadly menyatakan Pemko Padang tidak hanya mengandalkan personel, tetapi juga meremajakan unit infrastruktur dan peralatan penanggulangan banjir. Pengadaan itu dialokasikan melalui penggabungan pos APBD, APBN, hingga pengalihan sebagian dana Transfer ke Daerah.

Pada sisi hulu, pemerintah menyiapkan pembebasan lahan seluas 20 hektare untuk pembangunan waduk pascabencana Agustus 2026. Pemko Padang juga merencanakan sabo dam di Sungai Guo untuk menekan debit air yang mengalir ke kawasan Air Pacah dan Tunggul Hitam, dengan prioritas penanganan di daerah aliran sungai Kuranji dan Lubuk Minturun.

Meski begitu, Aji mengakui sebagian besar peralatan kesatuan di jajaran TNI telah terpakai pada penanganan bencana sebelumnya. Ia menyebut masih dibutuhkan tambahan sarana tanggap darurat, terutama perahu karet dan rompi pelampung untuk evakuasi korban banjir.

Kesiapsiagaan itu menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memprakirakan Kota Padang diguyur hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang pada Sabtu (7/11/2026). BMKG juga meminta warga mewaspadai potensi banjir rob di pesisir Sumatera Barat.

Hingga berita ini diturunkan, lokasi dan waktu operasional posko terpadu belum diumumkan. Pemerintah kota juga belum merinci jumlah total personel gabungan yang disiagakan.

Tentang Penulis

A

Aksara Kirana

Penulis di Pameo News

Disunting oleh Nayla

Lihat Semua Artikel