Selasa, 09 Juni 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement
Daerah

Peluru Nyasar di UNP: Lapangan Tembak Lapai Ditutup, Latihan Dipindah ke Padangpanjang

Insiden peluru nyasar di UNP Padang melukai dua orang pada 2 Juni 2026. Kodam XX/TIB menutup Lapangan Tembak Lapai dan memindahkan latihan. Simak kronologi dan tuntutan UNP.

Oleh Redaksi
Diterbitkan 08 Juni 2026
Tim investigasi Kodam XX/ Tuanku Imam Bonjol melakukan proses pencarian diduga proyektil lainnya di sekitaran gedung rektorat UNP
Tim investigasi Kodam XX/ Tuanku Imam Bonjol melakukan proses pencarian diduga proyektil lainnya di sekitaran gedung rektorat UNP

Sore itu seharusnya menjadi momen perayaan. Nova Wirantika, mahasiswi Sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP) berusia 25 tahun, baru saja menyelesaikan ujian seminar proposal. Bersama rekan-rekannya, ia duduk santai di alun-alun depan Rektorat UNP, di Jalan Prof. Dr. Hamka, Air Tawar Barat, Padang Utara. Tiba-tiba, kegembiraan itu berakhir dengan kepanikan — peluru menghantam Nova di bagian paha kiri, dan teman kunjungannya, Guruh Guino (22), terluka di tangan.

Insiden pada Selasa, 2 Juni 2026, itu kembali menyeret nama Lapangan Tembak TNI di kawasan Lapai ke perhatian publik — sebuah fasilitas militer yang berada hanya sekitar 800 meter dari kampus induk UNP.

Kronologi Insiden Peluru Nyasar di UNP

Pada hari yang sama, personel Batalyon DTP Singgalang di bawah Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB) sedang menggelar latihan menembak menggunakan senjata laras panjang di Lapangan Tembak Lapai. Kegiatan tersebut berlangsung sejak pagi hingga sore hari dalam rangka persiapan lomba kemampuan menembak TNI AD.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XX/TIB, Kolonel Kav Taufiq, mengonfirmasi adanya latihan itu dalam konferensi pers keesokan harinya, Rabu (3/6/2026). Namun ia menegaskan bahwa asal proyektil yang mengenai kedua korban belum dapat dipastikan berasal dari latihan tersebut, mengingat jarak antara lapangan tembak dan lokasi kejadian yang terbilang jauh. Untuk membantu proses penyembuhan, Kodam mengambil alih biaya perawatan medis dan merujuk kedua korban ke Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo Padang. Nova menjalani operasi pengangkatan proyektil dari pahanya, sementara Guruh mendapat penanganan luka di tangan.

Tim investigasi internal Kodam yang dipimpin Danpomdam XX/TIB, Kolonel Cpm Laksono Puji Lisdyanto, langsung bergerak cepat. Sebanyak 10 orang diperiksa sebagai saksi — mulai dari rekan-rekan korban, petugas keamanan kampus UNP, hingga prajurit Batalyon DTP Singgalang yang ikut serta dalam latihan. Proyektil yang diangkat dari tubuh korban juga dijadwalkan menjalani uji balistik untuk memastikan asalnya.

Lapangan Tembak Lapai Resmi Ditutup Sementara

Merespons insiden yang menjadi sorotan luas ini, Kodam XX/TIB mengumumkan penutupan sementara Lapangan Tembak Lapai. Kolonel Taufiq menyatakan langkah itu diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan fasilitas, sekaligus untuk mendukung proses investigasi yang masih berlangsung.

"Lapangan tembak di Lapai untuk sementara tidak digunakan sampai ada investigasi lebih lanjut terkait evaluasi tanggul atau aspek keamanan," kata Taufiq. Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan awal, kondisi tanggul dan area pengamanan lapangan tembak secara fisik masih dinilai memenuhi standar. Namun Kodam mengakui ada faktor-faktor di luar kendali yang sulit diantisipasi sepenuhnya.

Menyangkut kelanjutan nasib lapangan tembak tersebut, Kodam menyiapkan dua opsi: pertama, rehabilitasi total untuk meningkatkan keamanan, termasuk kemungkinan mengubahnya menjadi lapangan tembak tertutup (indoor); kedua, jika rehabilitasi dinilai tidak memungkinkan, mencari lokasi latihan yang baru sepenuhnya. Latihan menembak untuk sementara dipindahkan ke Padangpanjang sambil menunggu hasil investigasi dan keputusan final.

UNP Tagih Janji: Sudah Tujuh Kali Kejadian Sejak 2010

Bagi pihak UNP, insiden ini bukan berita baru. Senior Eksekutif UNP, Profesor Ganefri — yang pernah menjabat sebagai Rektor UNP periode 2016–2024 — mengungkapkan bahwa peristiwa serupa sudah terjadi setidaknya tujuh kali sejak tahun 2010. Salah satunya bahkan menyebabkan kaca di dekat ruangan rektor pecah, dengan proyektil yang ditemukan di dalam ruangan.

Advertisement

"Saran saya memang itu ditinjau ulang oleh TNI supaya dipindahkan. Kemarin panglima sudah janji untuk evaluasi. Kami khawatirnya kalau ganti lagi panglima, lupa lagi, tidak ada tindak lanjutnya," ujar Ganefri.

Jika ditarik garis lurus, lokasi Lapangan Tembak Lapai memang berada sejajar dan menghadap langsung ke gedung Rektorat UNP — sebuah kondisi geografis yang dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan kawasan. Areal sekitar kini telah berubah menjadi permukiman padat penduduk dan kawasan akademik yang ramai aktivitas.

Sekretaris UNP, Erianjoni, membenarkan kecemasan itu dan menegaskan perlunya solusi permanen. "Diperkirakan berasal dari lokasi latihan tembak TNI di Lapai, yang berjarak 800 meter dari kampus induk UNP," katanya, seraya menyerahkan sepenuhnya keputusan teknis relokasi kepada jajaran Kodam XX/TIB.

UNP Surati Menkopolkam

Frustrasi atas janji-janji yang tak kunjung ditindaklanjuti mendorong UNP mengambil langkah lebih serius. Kampus menyurati Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) untuk meminta peninjauan ulang formal atas lokasi Lapangan Tembak Lapai.

"Kita minta ditinjau ulang, soalnya sudah tidak tepat. Lokasinya berada di permukiman padat penduduk dan dekat kampus," tegas Ganefri. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa insiden berulang ini berdampak pada citra UNP, terutama menjelang penerimaan mahasiswa baru — alun-alun depan rektorat yang menjadi lokasi kejadian justru merupakan tempat favorit mahasiswa merayakan kelulusan ujian skripsi dan seminar dengan berfoto bersama.

Surat kepada Menkopolkam dimaksudkan agar ada ketetapan dari tingkat pusat, sehingga keputusan relokasi tidak lagi bergantung pada pergantian pejabat di tingkat Korem maupun Pangdam.

Apa Selanjutnya?

Insiden peluru nyasar di UNP bukan semata masalah teknis lapangan tembak — ini adalah pertanyaan tentang tata ruang kota dan prioritas keselamatan warga. Lapangan Tembak Lapai yang dibangun di era lain kini diapit oleh kampus dan permukiman; apa yang dulu terasa jauh kini terasa sangat dekat.

Kodam XX/TIB telah menunjukkan respons awal yang signifikan dengan menutup fasilitas dan memindahkan latihan ke Padangpanjang. Kini, yang ditunggu adalah kepastian: apakah hasil investigasi dan uji balistik akan memberikan kejelasan soal asal proyektil, dan apakah komitmen relokasi permanen akan benar-benar terwujud kali ini.

Bagi Nova dan Guruh, yang kondisinya dilaporkan berangsur membaik, pertanyaan itu mungkin terasa abstrak. Tapi bagi ribuan mahasiswa yang setiap hari melintas di alun-alun Rektorat UNP, jawabannya adalah soal keamanan yang nyata.