Selasa, 30 Juni 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Prof Helmizar UNAND Dorong Pencegahan Stunting Lewat Dadih dan Pangan Lokal Sumbar

Guru Besar FKM UNAND Prof Helmizar menyoroti pencegahan stunting lewat dadih dan pangan lokal Sumbar, mulai dari intervensi gizi ibu hamil hingga hilirisasi produk pangan fungsional.

Oleh Dipsi Ay
Diterbitkan
Guru Besar FKM Universitas Andalas Prof Helmizar menjelaskan solusi pencegahan stunting berbasis pangan lokal di Padang.
Foto: Humas UNAND

Universitas Andalas kembali mendorong solusi pencegahan stunting yang dekat dengan potensi daerah. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAND, Prof. Dr. Helmizar, S.K.M., M.Biomed., menegaskan bahwa pemenuhan gizi sejak awal kehidupan menjadi kunci membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam keterangan resmi yang disampaikan di Padang pada Senin, 29 Juni 2026, Helmizar menjelaskan persoalan gizi tidak berhenti pada stunting saja. Menurut dia, Indonesia juga menghadapi triple burden of malnutrition, yakni stunting, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien.

Ia menekankan masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode paling menentukan bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kognitif, hingga produktivitas anak pada masa depan.

Soroti dadih sebagai pangan fungsional

Salah satu poin yang disorot Helmizar adalah hasil riset jangka panjang mengenai dadih, pangan fermentasi khas Sumatera Barat, sebagai pangan fungsional. Riset itu menunjukkan suplementasi dadih, terutama yang dikombinasikan dengan zink pada ibu hamil, dapat membantu memperbaiki status gizi ibu, meningkatkan sistem imun ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan anak.

“Bahkan, hasil pemantauan hingga usia dua tahun memperlihatkan kecenderungan prevalensi stunting yang lebih rendah pada kelompok yang memperoleh intervensi tersebut,” ujar Helmizar.

Advertisement

Menurutnya, pencegahan stunting tidak cukup mengandalkan intervensi kesehatan semata. Upaya itu perlu didukung pendekatan terpadu yang menghubungkan penelitian, inovasi, kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Dari riset kampus ke produk turunan

UNAND juga mendorong hilirisasi hasil riset itu melalui pengembangan produk berbasis dadih dan sorgum, seperti tepung dadih, minuman probiotik, roti, puding, hingga makanan pendamping ASI. Helmizar menilai langkah ini penting agar hasil penelitian kampus tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Selain gizi, ia juga menyoroti pentingnya pola asuh anak. Helmizar menyebut pendekatan Manjujai, kearifan lokal Minangkabau dalam memberi stimulasi kepada anak, terbukti mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional.

Bagi Sumatera Barat, pendekatan ini memberi ruang bagi penguatan program pencegahan stunting yang lebih dekat dengan budaya makan, pangan lokal, dan praktik pengasuhan di tingkat keluarga.

Sumber: Universitas Andalas

Tentang Penulis