Kamis, 11 Juni 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement
Pendidikan

UNAND dan Hutama Karya Resmikan PUSTROIB, Pusat Studi Terowongan Pertama di Indonesia

Universitas Andalas dan PT Hutama Karya meresmikan PUSTROIB, pusat studi terowongan dan infrastruktur bawah tanah pertama di Indonesia, pada 5 Juni 2026. Langkah strategis mendukung pembangunan tol Sicincin–Bukittinggi dengan terowongan sepanjang 5,85 km.

Oleh Claudia
Diterbitkan 10 Juni 2026
Terowongan tol terpanjang di Indonesia. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
Terowongan tol terpanjang di Indonesia. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Padang — Di tengah rencana ambisius pembangunan jalan tol yang bakal menembus jantung Pegunungan Bukit Barisan, Universitas Andalas (UNAND) dan PT Hutama Karya (Persero) mengambil langkah yang tidak banyak dilakukan kampus teknik di Indonesia: mendirikan laboratorium gagasan khusus untuk teknologi di bawah tanah. Jumat, 5 Juni 2026, di Convention Hall UNAND Limau Manis, lahirlah Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB) — yang diklaim sebagai pusat studi terowongan pertama di Indonesia.

Peresmian PUSTROIB berlangsung bersamaan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UNAND dan PT Hutama Karya yang mencakup pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengembangan sumber daya manusia, inovasi, dan bisnis. MoU ditandatangani oleh Rektor UNAND Efa Yonnedi dan Direktur Human Capital dan Legal PT Hutama Karya Muhammad Fauzan.


Bukan Sekadar Riset, Ada Proyek Nyata di Baliknya

Pendirian PUSTROIB bukan lahir dari ruang hampa akademis. Sumatera Barat tengah bersiap menerima salah satu proyek infrastruktur paling menantang secara teknis di Pulau Sumatera: pembangunan ruas Tol Sicincin–Bukittinggi sepanjang sekitar 40 kilometer, yang diproyeksikan dilengkapi dua terowongan dengan total panjang 5,85 kilometer — terdiri dari terowongan sepanjang 5,5 km dan 350 meter.

Jika terealisasi, terowongan ini akan menjadi salah satu yang terpanjang dalam jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), sekaligus salah satu ujian teknologi konstruksi terbesar yang pernah dihadapi kontraktor nasional di tengah medan perbukitan dan hutan lindung.

Komisaris Utama PT Hutama Karya sekaligus Ketua Ikatan Alumni UNAND, Denny Abdi, menegaskan pentingnya PUSTROIB untuk menjawab tantangan teknis itu. Menurutnya, pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru di Sumatera, namun ruas Sicincin–Bukittinggi menyimpan tantangan konstruksi yang berbeda dari ruas-ruas sebelumnya.

"Kehadirannya sangat penting karena pada ruas Sicincin–Bukittinggi akan dibangun terowongan sepanjang sekitar 5,8 kilometer yang menjadi salah satu terpanjang di Indonesia," kata Denny.

Nilai investasi proyek tol ini sendiri terbilang besar. Biaya pembangunan diperkirakan mencapai sekitar Rp 25,23 triliun, dengan pembiayaan terowongan yang direncanakan mendapat dukungan dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar sekitar Rp 20 triliun. Konstruksi ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026, setelah tahapan survei geoteknik dan pengurusan izin kawasan hutan lindung rampung.


PUSTROIB: Segitiga Akademisi, Pemerintah, dan Industri

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah hadir dalam peresmian dan menyebut PUSTROIB sebagai langkah yang "sangat visioner". Bagi Mahyeldi, Sumatera Barat tidak bisa hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur nasional — daerah ini harus ikut menjadi pusat pengetahuan yang menopang pembangunan itu.

Ia mengingatkan bahwa sejarah Sumbar dengan teknologi terowongan sebenarnya sudah panjang. Sejak masa kolonial, berbagai jalur transportasi di daerah ini telah memanfaatkan teknologi penggalian bawah tanah. Kehadiran PUSTROIB dinilai sebagai upaya memoderniasi kompetensi yang sudah ada, bukan memulai dari nol.

Advertisement

"Kami berharap Sumatera Barat tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur strategis nasional, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung pembangunan Indonesia secara berkelanjutan," ujarnya.

Sebagai wujud komitmen konkret, PT Hutama Karya juga menyerahkan bantuan sarana dan prasarana kepada UNAND, serta memberikan beasiswa kepada lima mahasiswa. Rangkaian kegiatan turut diisi dengan program HK Mengajar Inspiring Leader, sosialisasi bimbingan kesiapan kerja bersama Ruangguru, dan kuliah umum.


Apa yang Akan Dikerjakan PUSTROIB?

Sebagai pusat studi pertama di bidangnya di Indonesia, PUSTROIB diharapkan menjadi wadah kolaborasi riset antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk menjawab kebutuhan konstruksi bawah tanah yang semakin kompleks. Ini mencakup pengembangan teknologi pengeboran, analisis geoteknik untuk formasi batuan Sumatera, standar keamanan terowongan, hingga penyiapan tenaga ahli yang selama ini langka di dalam negeri.

Rektor UNAND Efa Yonnedi, mantan konsultan Bank Dunia, menekankan bahwa program pembangunan UNAND tidak boleh terpisah dari pembangunan di Ranah Minang. Sebelum meresmikan PUSTROIB, ia telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan strategis, termasuk Chief Operating Officer Danantara dan Kepala Badan Pengaturan BUMN, guna mendorong keterlibatan UNAND dalam master plan pembangunan infrastruktur Sumatera Barat.


Konteks: Mengapa Terowongan Jadi Tantangan Besar?

Ruas Sicincin–Bukittinggi bukan seperti jalan tol biasa. Jalur ini harus melewati kawasan yang secara geografis didominasi perbukitan, area berbatu, dan sebagian hutan lindung. Survei topografi sudah rampung, sementara survei geoteknik melalui metode boring investigation (pengeboran vertikal untuk pemetaan struktur tanah) dijadwalkan berlangsung setelah izin memasuki kawasan hutan lindung terbit dari kementerian terkait.

Secara teknis, kombinasi jalur yang direncanakan pada segmen Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang terdiri dari jalur at-grade sepanjang 4,45 km, jembatan 10 km, dan terowongan 5,85 km. Ini menempatkan proyek ini pada kelas tersendiri dalam sejarah konstruksi jalan tol di Indonesia.

Itulah mengapa keberadaan institusi riset seperti PUSTROIB — yang bisa melakukan kajian ilmiah independen, mengembangkan standar teknis, dan menyiapkan insinyur berpengalaman di bidang konstruksi bawah tanah — menjadi sangat relevan, bukan hanya untuk proyek ini, tetapi untuk seluruh agenda infrastruktur nasional ke depan.

Lahirnya PUSTROIB di UNAND mencerminkan pergeseran pendekatan dalam kolaborasi antara perguruan tinggi dan BUMN: dari sekadar seremonial MoU menjadi kemitraan teknis yang berakar pada masalah nyata di lapangan. Bagi Sumatera Barat, ini adalah sinyal bahwa daerah ini tidak hanya menjadi penerima proyek nasional, melainkan ikut membentuk pengetahuan yang menopangnya.