Rabu, 08 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Antrean Solar Mengepung 7 Kecamatan di Padang, Truk Mengular hingga 1 Km

Antrean kendaraan solar bersubsidi melumpuhkan lalu lintas di tujuh kecamatan di Kota Padang pada Selasa (7/7/2026). Truk logistik mengular hingga lebih dari satu kilometer di jalur utama, sopir bus kehilangan trip, dan warga menduga ada ketidakberesan distribusi.

Oleh Claudia Lestari
Diterbitkan
Foto: Antrean truk mengular di SPBU Khatib Sulaiman, Kota Padang, Sumatera Barat
Foto: Kompas.com / Rahmat Panji

Antrean panjang kendaraan yang hendak mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar kembali mengepung Kota Padang, Sumatera Barat, pada Selasa (7/7/2026). Pemandangan truk-truk besar dan kendaraan logistik yang mengular hingga memakan badan jalan membuat arus lalu lintas di sejumlah jalur utama macet parah dan dikeluhkan warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kelangkaan solar bersubsidi berdampak pada tujuh dari sebelas kecamatan di Kota Padang yang memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Antrean terparah terjadi di jalur By Pass Kecamatan Kuranji, di mana antrean truk sumbu tiga mengular lebih dari satu kilometer hingga ke perempatan lampu merah.

Di Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, antrean terjadi di kedua sisi jalan akibat keberadaan dua SPBU yang berdekatan. Kondisi ini melumpuhkan salah satu jalur protokol utama di Kota Padang. Kecamatan Padang Timur, Padang Barat, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, dan Koto Tangah juga turut terdampak.

Ananda Ar Rahman, seorang pengendara mobil yang melintas di kawasan By Pass Kuranji, mengeluhkan situasi tersebut. "Kadang kendaraan ini menumpuk dan tidak beraturan, padahal di ruas jalan ini bebas hambatan. Susah kalau kita sedang buru-buru. Petugas SPBU seperti mengabaikan sehingga jalurnya jadi berantakan dan mengganggu pengguna jalan," ujarnya.

Kelangkaan solar juga berdampak langsung pada sektor transportasi antardaerah. Agus Salim (58), sopir bus trayek Sumbar–Palembang, harus kehilangan trip pagi setelah berburu solar ke empat SPBU berbeda. Ia akhirnya memilih bertahan di SPBU Khatib Sulaiman dan mengantre sejak pukul 09.00 WIB. Hingga pukul 14.43 WIB—nyaris enam jam kemudian—busnya baru mencapai halaman masuk SPBU.

Advertisement

"Meski sudah mengantre enam jam, tidak ada jaminan saya bisa dapat Solar. Jadi terus berdoa saja," kata Agus Salim di tengah kepulan asap knalpot.

Nasib serupa dialami Yaldi (40), sopir bus trayek Padang–Jakarta. Ia sudah mencari solar sejak pukul 05.00 WIB, namun tepat saat kendaraannya tiba di depan mesin pengisian, pasokan solar di SPBU habis.

Masrul Rajo Intan, pemilik kendaraan pribadi bermesin diesel, juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar. "Saya mengantre dari jam 09.00 pagi sampai setengah dua siang belum juga dapat. Mengisi minyak sekarang susahnya minta ampun," katanya.

Ia menduga ada ketidakberesan dalam distribusi solar bersubsidi. "Sebenarnya jatah minyak ke SPBU tidak pernah berkurang, tapi tampaknya tidak sesuai peruntukan. Minyak ini lari ke pihak yang seharusnya tidak membutuhkan, makanya bagi kami yang membutuhkan jadi sulit."

Fenomena antrean solar di Padang bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya pada Mei 2026, kondisi serupa juga sempat melumpuhkan sejumlah SPBU di Kota Padang dan wilayah Sumatera Barat lainnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pertamina maupun pemerintah daerah terkait langkah penanganan krisis solar yang kembali berulang ini.

Tentang Penulis