Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan 695 unit hunian tetap (huntap) mandiri bagi warga Sumatera Barat yang rumahnya rusak berat akibat banjir dan tanah longsor yang diperparah keberadaan Siklon Senyar.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu (15/7), mengatakan opsi huntap mandiri didorong agar pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat dibanding skema komunal. Menurutnya, lahan relokasi yang sudah tersedia membuat BNPB dapat segera memulai konstruksi.
"Pilihan ini memungkinkan pembangunan huntap berjalan lebih cepat, karena lahan atau tanah relokasi telah tersedia, sehingga BNPB dapat segera melakukan pembangunan," ujar Abdul.
Pada skema huntap mandiri, warga terdampak dapat mengajukan pembangunan kembali rumah di atas tanah milik sendiri (in situ). Berbeda dengan huntap komunal, pemerintah daerah harus lebih dulu menyiapkan hamparan lahan relokasi baru sebelum konstruksi fisik dimulai.
Berdasarkan rekapitulasi per Senin (13/7), target 695 unit tersebar di Padang Pariaman 457 unit, Tanah Datar 101 unit, Lima Puluh Kota 49 unit, Agam 29 unit, dan Pasaman Barat 28 unit. Alokasi lain menyasar Pesisir Selatan 15 unit, Kota Pariaman 8 unit, Pasaman 4 unit, dan Kota Padang Panjang 4 unit, ditambah usulan baru Pemerintah Kota Padang sebanyak 22 unit.
Seluruh unit huntap mandiri dibangun dengan standar rumah tipe 36 yang dilengkapi dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur. Di Sumbar, BNPB menggandeng PT Semen Padang melalui teknologi Sepablock, bata saling mengunci (interlocking) yang ramah gempa, ramah lingkungan, dan cepat dibangun.
Abdul menegaskan sinergi lintas sektor tersebut merupakan komitmen pemerintah untuk membangun kembali dengan lebih aman dan baik secara terarah serta berkelanjutan. Target huntap mandiri menjadi bagian dari percepatan pemulihan warga terdampak bencana hidrometeorologi di Ranah Minang.
Artikel disusun berdasarkan pemberitaan ANTARA (15 Juli 2026).
Topik Terkait
Tentang Penulis