Minggu, 05 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Bunga Bangkai Langka Mekar Sempurna di Pinggir Jalan Nasional Sumbar-Sumut

Amorphophallus titanum mekar sempurna di Palupuh, Agam, hanya 20 meter dari Jalan Lintas Sumatra. BKSDA Sumbar sebut bunga akan layu dalam beberapa hari.

Oleh Jemi Setiawan
Diterbitkan
Bunga bangkai Amorphophallus titanum mekar sempurna di pinggir Jalan Lintas Sumatra, Palupuh, Agam
Foto: ANTARA/Yusrizal

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) mekar sempurna di pinggir Jalan Lintas Sumatra yang menghubungkan Sumatera Barat dan Sumatera Utara, tepatnya di Jorong Batu Gadang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Bunga langka dan dilindungi itu hanya berjarak sekitar 20 meter dari badan jalan nasional.

Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, Ade Putra, memastikan bunga tersebut telah mekar sempurna pada hari keempat dan akan segera layu serta membusuk dalam beberapa hari ke depan.

"Bunga akan layu dan membusuk beberapa hari kedepan," kata Ade Putra, Minggu (5/7/2026).

Bunga bangkai yang berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut ini merupakan spesies yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024.

Advertisement

Palupuh dikenal sebagai habitat alami yang ideal bagi Amorphophallus titanum karena kondisi iklim dan topografinya. Sebelumnya, bunga serupa juga tercatat mekar di Sitingkai, nagari yang sama di Palupuh.

BKSDA Sumbar mencatat bahwa 15 dari 16 kecamatan di Kabupaten Agam pernah memiliki catatan mekarnya bunga bangkai. Hanya Kecamatan Tanjung Mutiara yang belum pernah ditemukan. Setidaknya empat spesies Amorphophallus ditemukan di Agam, yakni A. titanum, A. gigas, A. paeoniifolius, dan A. variabilis.

Secara biologis, Amorphophallus titanum memiliki dua fase kehidupan. Fase vegetatif berupa satu batang dan daun yang dapat bertahan hingga dua tahun, dan fase generatif berupa bunga yang hanya mekar selama 7–10 hari sebelum layu dan membusuk. Berbeda dengan Rafflesia arnoldii yang bersifat dioecious (berumah dua), bunga bangkai bersifat monoecious, di mana bunga jantan dan betina berada dalam satu individu.

Keberadaan bunga bangkai yang mekar di lokasi yang mudah diakses publik ini berpotensi menjadi daya tarik wisata alam dan edukasi. Masyarakat diimbau untuk tidak memetik atau merusak bunga yang dilindungi undang-undang tersebut.

Tentang Penulis