Siang itu, warga Kota Padang dan sekitarnya merasakan getaran yang cukup mengejutkan. Tepat pukul 13.39.24 WIB, Senin (8/6/2026), gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah Padangpariaman, Sumatera Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis data resmi dan memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa berada di koordinat 0,88° Lintang Selatan dan 100,25° Bujur Timur — tepatnya di laut, sekitar 28 kilometer arah selatan Kabupaten Padangpariaman. Pusat gempa tercatat berada pada kedalaman 68 kilometer di bawah permukaan laut.
Aktivitas Zona Subduksi Jadi Penyebab
Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang BMKG, Suaidi Ahadi, menerangkan bahwa gempa ini terjadi akibat aktivitas zona subduksi. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman pusat gempa, karakteristik gempa ini tergolong gempa dalam — sebuah tipe yang umumnya menghasilkan guncangan yang lebih luas namun dengan intensitas lebih rendah di permukaan dibanding gempa dangkal.
Getaran dirasakan di Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, dan Kota Pariaman dengan intensitas II–III MMI. Pada skala tersebut, getaran terasa nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk besar yang melintas, dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang. Sebagian warga dilaporkan berlarian keluar dari bangunan karena terkejut oleh guncangan yang datang secara tiba-tiba.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga pukul 13.45 WIB — enam menit setelah gempa — belum ditemukan aktivitas gempa susulan (aftershock). Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Sumatera Barat dan Ancaman Gempa yang Tak Pernah Jauh
Bagi warga Sumatera Barat, getaran seperti ini bukan hal asing. Wilayah ini berada tepat di atas zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, dengan Sesar Semangko yang membentang sepanjang punggung Pulau Sumatera turut menambah kompleksitas ancaman seismik di kawasan ini. Sejarah mencatat berbagai gempa besar melanda wilayah ini, termasuk gempa dahsyat 7,6 magnitudo yang mengguncang Padangpariaman pada 2009 dan merenggut ribuan jiwa.
Gempa magnitudo 4,5 termasuk dalam kategori sedang yang umumnya tidak menyebabkan kerusakan struktural signifikan pada bangunan yang memenuhi standar tahan gempa. Namun, posisi Sumatera Barat sebagai salah satu daerah paling rawan gempa di Indonesia menuntut kewaspadaan yang konsisten dari seluruh lapisan masyarakat.
Imbauan BMKG: Waspada Hoaks, Ikuti Informasi Resmi
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Seluruh informasi gempa dan peringatan dini dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, yakni akun Instagram dan Twitter @infoBMKG, situs resmi bmkg.go.id, kanal Telegram InaTEWS, serta aplikasi mobile WRS-BMKG dan InfoBMKG yang tersedia di iOS maupun Android.
Masyarakat juga diimbau untuk memperbarui pengetahuan tentang jalur evakuasi di wilayah masing-masing, memastikan kondisi bangunan tempat tinggal memenuhi standar ketahanan gempa, serta menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah antisipasi.
Sumber: BMKG, Sumbarkita.id, Tempo, Kabar Sumbar — 8 Juni 2026