PADANG — Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah meletus dua kali dalam seminggu terakhir, pada Sabtu (7/11) pagi dan Minggu (8/11) dinihari. Abu vulkanik yang terbawa angin telah menutupi lahan pertanian dan kebun warga di Nagari Sariak, Kecamatan Sungai Pua, mengganggu aktivitas petani dan mengancam hasil panen.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status aktivitas Gunung Marapi pada Level II atau Waspada. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang keras memasuki maupun beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi di Kawah Verbeek.
Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Sariak, Ismail Damar, menyampaikan bahwa hujan abu vulkanik sangat mengganggu penglihatan dan membuat nafas sesak bagi warga yang bertani di lereng gunung. "Material abu menutupi sebagian besar lahan pertanian dan kebun milik warga," ujarnya.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ahmad Rifandi mencatat erupsi Sabtu pagi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 15,6 milimeter dan berdurasi sekitar 48 detik. Tinggi kolom abu tidak dapat diamati dari pos pengamatan.
PVMBG mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar lembah, aliran, dan bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Marapi untuk tetap waspada terhadap potensi lahar dingin, terutama saat terjadi hujan di wilayah puncak. Warga juga dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut saat hujan abu untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Wilayah yang terdampak aktivitas Gunung Marapi meliputi Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam. Masyarakat diminta tetap tenang, tidak menyebarkan berita bohong, dan selalu mengacu pada arahan resmi dari pemerintah daerah setempat.
Topik Terkait
Tentang Penulis