Warga Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, mendeklarasikan penolakan terhadap segala bentuk permusuhan pasca-bentrokan antarwarga di wilayah Matraman yang menewaskan satu orang dan melukai seorang lainnya pada Ahad (26/7/2026). Deklarasi digelar sebagai upaya meredam ketegangan dan mencegah isu suku yang dipicu insiden tersebut berkembang di tengah masyarakat.
Kapolres Metro Jakarta Pusat dan perangkat kelurahan turut hadir dalam kegiatan yang mengajak seluruh pihak menjaga kondusifitas ibu kota. Sejumlah warga menyatakan ingin kembali beraktivitas seperti sedia kala dan tidak ingin kejadian serupa terulang.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menolak keras upaya mengaitkan bentrokan itu dengan isu etnis. "Saya tak mau ada isu etnisitas, Jakarta sudah aman dan tenteram," ujarnya dalam keterangan tertulis. Ia meminta warga menyelesaikan konflik dengan kepala dingin dan tidak terprovokasi.
Pernyataan senada disampaikan Pramono usai menerima laporan perkembangan penanganan di lapangan. Ia menekankan Jakarta sebagai kota yang sangat terbuka dan mengimbau warga tetap tenang.
Penyidik Polda Metro Jaya telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka dalam perkara bentrokan tersebut. Polisi masih mendalami motif dan memburu pelaku lain yang belum tertangkap, seiring mediasi antarpihak yang berujung damai di kantor polisi.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenHAM) DKI Jakarta juga mengeluarkan imbauan pasca-bentrok, meminta warga menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.
Hingga Selasa (28/7/2026), aktivitas warga di sekitar lokasi bentrokan berangsur normal meski posko pengamanan masih berdiri sebagai antisipasi.
Topik Terkait
Tentang Penulis