Minggu, 05 Juli 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement

Video Viral Letusan Anak Krakatau Ternyata Hoaks, Status Gunung Tetap Siaga

Video viral letusan Gunung Anak Krakatau dipastikan bukan kondisi terkini. Meski begitu, status gunung di Selat Sunda tetap Level III atau Siaga.

Oleh Gatot Permadi
Diterbitkan
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Foto: Arsip CNN Indonesia

Video letusan besar Gunung Anak Krakatau yang ramai beredar di media sosial dipastikan bukan rekaman kondisi terkini. Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau menyebut aktivitas terbaru gunung api di Selat Sunda itu tidak seperti yang tergambar dalam video viral tersebut, meski statusnya masih berada pada Level III atau Siaga.

Klarifikasi ini penting karena video berdurasi singkat itu beredar saat masyarakat pesisir, nelayan, dan wisatawan sedang diminta meningkatkan kewaspadaan. Dalam rekaman yang viral, tampak semburan api dan asap pekat dari arah kawah pada malam hari sehingga memicu kekhawatiran publik.

Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan rekaman tersebut bukan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini. Berdasarkan pemantauan yang dikutip CNN Indonesia, erupsi terakhir yang tercatat terjadi pada Jumat sekitar pukul 15.00 WIB.

Hingga Sabtu siang dan sore, pos pantau tidak mengamati adanya aktivitas erupsi baru seperti yang terlihat dalam video tersebut. Namun, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan karena status gunung masih Siaga.

Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada Kamis (2/7) pukul 16.30 WIB. Kenaikan status itu dikaitkan dengan peningkatan aktivitas vulkanik, termasuk gempa vulkanik dangkal, emisi gas sulfur dioksida, deformasi tubuh gunung, serta rentetan erupsi.

Advertisement

Dengan status tersebut, masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah. Imbauan ini berlaku untuk mengurangi risiko jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Polda Lampung juga meminta warga tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi dari instansi resmi. Masyarakat disarankan merujuk pada informasi Badan Geologi, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, serta aparat terkait sebelum menyebarkan kabar mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari mengingatkan penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan keresahan. Polda Lampung juga mengaktifkan Satgas Aman Nusa dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI, serta instansi lain untuk menghadapi potensi kondisi darurat.

Di wilayah perairan, patroli Polairud disebut terus dilakukan untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus menyampaikan imbauan kepada masyarakat pesisir. Pemerintah dan aparat meminta warga tetap waspada, tetapi tidak panik terhadap konten viral yang belum jelas sumber dan waktunya.

Tentang Penulis