Jumat, 05 Juni 2026 Edisi Hari Ini
Advertisement
News

Peluru Nyasar Hantam Mahasiswa UNP dan Warga Sipil di Padang, TNI Lakukan Uji Forensik Balistik

Dua warga sipil, termasuk mahasiswi Jurusan Sosiologi UNP, terkena peluru nyasar di kawasan kampus Universitas Negeri Padang. Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol tengah menjalani uji forensik balistik, sementara Komnas HAM mendesak transparansi penyelidikan.

Oleh Redaksi
Diterbitkan 05 Juni 2026
Ilustrasi
Ilustrasi

Sore itu terasa biasa di kawasan Rektorat Universitas Negeri Padang — mahasiswa baru saja selesai merayakan kelulusan seminar proposal mereka — ketika tiba-tiba dua orang tumbang terkena tembakan yang tidak ada yang mengira akan terjadi di lingkungan perguruan tinggi.

Pada Selasa, 2 Juni 2026, sekitar pukul 17.05 WIB, dua warga sipil dilaporkan terkena peluru yang diduga nyasar di kawasan kampus Universitas Negeri Padang (UNP), Kota Padang, Sumatera Barat. Salah satu korban adalah seorang mahasiswi Jurusan Sosiologi UNP yang saat itu tengah berada di sekitar area rektorat pascaperayaan seminar proposal. Korban kedua merupakan keluarga mahasiswa yang juga sedang berada di lingkungan kampus pada saat bersamaan.

Kodam Imam Bonjol Akui Kejadian, Investigasi Masih Berlangsung

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kav Taufiq, membenarkan insiden tersebut pada Selasa malam. Ia mengakui bahwa pada saat kejadian, satuan Batalion Infanteri (Yonif) TP 897/Singgalang memang sedang menjalankan latihan menembak di Lapangan Tembak Lapai, Kota Padang — tidak jauh dari lokasi kampus UNP.

Namun pihak TNI belum memastikan apakah peluru yang mengenai kedua korban berasal dari latihan tersebut. Dari hasil investigasi awal yang disampaikan keesokan harinya, diketahui bahwa proyektil yang mengenai korban berukuran sembilan milimeter — ukuran yang lazim digunakan pada senjata laras pendek. Dalam latihan tersebut, prajurit menggunakan baik senjata laras panjang maupun laras pendek.

"Ada kemungkinan tapi masih dilakukan uji forensik," kata Kolonel Taufiq saat dikonfirmasi pada Kamis (4/6).

Proses uji forensik balistik dilakukan bekerja sama dengan tim dari Jakarta. Pihak Kodam XX menegaskan akan bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel dalam mengungkap kasus ini. Lokasi latihan menembak di Lapai juga telah ditutup sementara sejak insiden ini terjadi, sebagai bagian dari langkah pengamanan selama proses investigasi berlangsung.

Kondisi Korban dan Respons UNP

Kedua korban segera dilarikan ke rumah sakit swasta terdekat, lalu dirujuk ke Rumah Sakit dr. Reksodiwiryo (Rumah Sakit Tentara) di Kota Padang untuk menjalani operasi pengangkatan proyektil pada hari yang sama. Mahasiswi UNP terkena tembakan di bagian paha atau kaki, sementara korban laki-laki mengalami luka di bagian tangan.

Per Kamis (4/6), kondisi keduanya dilaporkan sudah jauh membaik pasca-operasi. Kodam XX juga memastikan akan menanggung seluruh biaya perawatan kedua korban.

Sekretaris UNP, Erianjoni, membenarkan kejadian ini dan menyampaikan bahwa pihak kampus langsung mengerahkan ambulans begitu insiden dilaporkan. Rektor UNP, Krismadinata, menambahkan bahwa respons kampus berlangsung cepat — korban sudah berada di rumah sakit dan menjalani operasi pada hari yang sama.

Komnas HAM Turun Tangan, Desak Penyelidikan Transparan

Insiden ini menarik perhatian nasional. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI, Anis Hidayah, secara langsung mengunjungi kedua korban di Rumah Sakit dr. Reksodiwiryo pada Kamis (4/6) dan menegaskan pentingnya proses penyelidikan yang terbuka.

Advertisement

Komnas HAM menekankan bahwa pengungkapan kasus ini harus dilakukan secara transparan, komprehensif, akuntabel, dan profesional — mengingat kejadian berlangsung di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman bagi sivitas akademika.

"Ini penting karena hak atas rasa aman dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan dijamin dalam undang-undang," tegas Anis Hidayah.

Komnas HAM juga menyoroti adanya informasi mengenai dugaan suara letusan senjata yang terdengar pada saat kejadian — hal yang masih perlu didalami untuk membuktikan kebenarannya secara kronologis dan teknis. Lembaga ini selanjutnya akan menugaskan Komnas HAM Perwakilan Sumatera Barat untuk melakukan pemantauan proaktif atas penanganan insiden ini, termasuk pengumpulan informasi tambahan yang dibutuhkan.

Antara Kampus dan Lapangan Tembak: Pertanyaan Soal Jarak Aman

Kasus ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang keamanan kawasan sekitar fasilitas latihan militer yang berdekatan dengan lingkungan sipil padat. Lapangan Tembak Lapai yang menjadi lokasi latihan Yonif TP 897/Singgalang berada di kawasan Kota Padang — dan kawasan UNP yang menjadi lokasi insiden tidak jauh dari sana.

Jika uji forensik balistik nantinya mengkonfirmasi bahwa proyektil berasal dari kegiatan latihan TNI, ini bukan sekadar soal kelalaian prosedur teknis. Ini menyangkut pertanyaan yang lebih luas: apakah standar operasional prosedur (SOP) latihan menembak di daerah urban sudah memadai untuk mencegah risiko terhadap warga sipil?

Kolonel Taufiq menjamin bahwa apabila kelak ditemukan personel yang menyalahi SOP, sanksi sesuai ketentuan yang berlaku akan dijatuhkan tanpa pengecualian.

Perkembangan Selanjutnya yang Perlu Diawasi

Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan aktif. Beberapa hal yang penting untuk terus dipantau adalah hasil uji forensik balistik dari proyektil yang telah diangkat dari tubuh kedua korban, kesimpulan investigasi bersama antara Kodam XX dan tim dari Jakarta, serta respons dari pihak DPR dan instansi penegak hukum terkait, mengingat Komnas HAM telah secara resmi masuk ke dalam kasus ini.

Insiden peluru nyasar di lingkungan kampus UNP bukan yang pertama kali terjadi di Kota Padang. Pada Februari 2020, sebuah peluru juga sempat mengagetkan karyawan di area yang sama — meski saat itu tidak menimbulkan korban jiwa. Pola berulang ini semakin memperkuat urgensi evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keamanan latihan militer di kawasan perkotaan.


Sumber: ANTARA News Sumbar (3–4 Juni 2026)
Referensi: Pernyataan Kapendam XX Kolonel Kav Taufiq, Sekretaris UNP Erianjoni, Rektor UNP Krismadinata, dan Ketua Komnas HAM Anis Hidayah